Hakikat dan Fungsi Ilmu Sosial Dasar di Perguruan Tinggi

Gambar

“Manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial, selalu membutuhkan orang lain”. Kita sering mendengar kutipan tersebut, mungkin terdengar sederhana namun kutipan tersebut memang benar adanya. Dari kutipan tersebut juga dapat kita simpulkan bahwa manusia berarti harus memahami apa arti dari “sosial” dan belajar bagaimana “berkomunikasi”. Kata “sosial” sendiri merupakan segala perilaku manusia yang menggambarkan perilaku nonindividualis dan merujuk pada hubungan-hubungan manusia dalam kemasyarakatan, hubungan antar manusia, hubungan manusia dengan kelompok, serta hubungan manusia dengan organisasi untuk mengembangkan dirinya (http://www.anneahira.com/pengertian-sosial.htm). Sedangkan kata ”komunikasi” adalah suatu proses dimana seseorang atau beberapa orang, kelompok, organisasi, dan masyarakat menciptakan, dan menggunakan informasi agar terhubung dengan lingkungan dan orang lain (http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi).

Manusia memang memiliki naluri untuk hidup berkelompok dalam arti tidak dapat hidup sendiri. Namun naluri tersebut tidak dapat berkembang jika manusia tersebut tidak belajar ataupun diajari bagaimana caranya berosialisasi dan berkomunikasi dengan orang lain. Jika di jenjang SD dan Sekolah Menengah diajarkan Ilmu Pengetahuan Sosial dimana hal itu merupakan proses pembentukan pengetahuan sosial, ada pula bidang ilmu yang menjadi mata kuliah tunggal yang diajarkan di jenjang Perguruan Tinggi yaitu Ilmu Sosial Dasar (ISD).  Menurut sumber yang saya peroleh ISD dan IPS terdapat perbedaan meskipun keduanya mempelajari semua hal yang berhubugan dengan kata “sosial”, yaitu:

  1. Ilmu sosial dasar diberikan di Perguruaan Tinggi, Ilmu Pengetahuan Sosial diberikan di sekolah dasar dan sekolah lanjutan.
  2. Ilmu sosial dasar merupakan mata kuliah tunggal sedangkan ilmu pengetahuan sosial dasar merupakan kelompok dari sejumlah mata pelajaran (untuk sekolah lanjutan).
  3. Ilmu Sosial dasar diarahkan kepada pembentukan sikap dan kepribadian, sedang ilmu pengetahuan social diarahkan kepada pembentukan pengetahuan dan keterampilan intelektual. (http://zavinaz.blogspot.com/2012/12/ilmu-sosial-dasar_6.html)

Dalam artikel ini kita akan membahas tentang Ilmu Sosial Dasar, dari perbedaan diatas dapat kita simpulkan bahwa IPS menjadi dasar pengetahuan dalam penanaman dan pembentukan nilai-nilai sosial sejak dini sedangkan Ilmu Sosial Dasar menjadi wadah pengetahuan bagi mahasiswa untuk bagaimana mengembangkan kemampuan berkomunikasinya dan mampu menyadari, memahami dan peka terhadap masalah-masalah sosial yang ada di masyarakat juga tanggap untuk ikut serta dalam usaha-usaha menanggulanginya, terlebih mampu mempelajarinya secara kritis karena menyadari bahwa masalah sosial yang timbul dalam masyarakat selalu bersifat kompleks. Hal yang tersebut tadi merupakan tujuan adanya Ilmu Sosial Dasar.

Ilmu Sosial Dasar merupakan pengetahuan yang menelaah masalah-masalah sosial, khususnya yang diwujudkan oleh masyarakat Indonesia dengan menggunakan pengertian-pengertian (fakta, konsep, teori) yang berasal dari berbagai bidang pengetahuan keahlian dalam lapangan ilmu-ilmu social seperti : sejarah,ekonomi, geografi, sosial, sosiologi, antropologi, psikologi sosial (http://zavinaz.blogspot.com/2012/12/ilmu-sosial-dasar_6.html).

Dari pengertian dan penjelasan diatas, mungkin muncul dalam benak kita, mengapa Ilmu Sosial Dasar sangat diperlukan bahkan menjadi mata kuliah dasar yang diajarkan kepada mahasiswa? menurut Conny R. Semiawan (1998:33) pendidikan tinggi antara lain berfungsi untuk mempersiapkan peserta didik menjadi manusia yang memiliki perilaku, nilai dan norma sesuai sistem yang berlaku sehingga mewujudkan totalitas manusia yang utuh dan mandiri sesuai tata cara hidup bangsa (http://tugasakhiramik.blogspot.com/2013/07/pengertian-tugas-dan-fungsi-perguruan.html). Dari pernyataan yang saya kutip tersebut erat kaitannya dengan kehidupan sosial dalam hal ini mahasiswa di dalam maupun di luar lingkungannya yakni bagaimana ia dapat berkomunikasi dan bersosialisasi dengan orang lain. Ini tentunya tidak terjadi begitu saja meskipun beberapa orang memang memiliki bakat dalam berkomunikasi serta bergaul dengan orang lain. Disinilah peranan Ilmu Sosial Dasar yang mengajarkan bagaimana seseorang dalam hal ini seorang mahasiswa yang memang dipersiapkan untuk mampu bersaing di dunia kerja.

Contoh paling sederhana pentingnya memiliki kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi melalui belajar Ilmu Sosial Dasar dalam Perguruan Tinggi bisa kita lihat dalam pergaulan sehari-hari dari ruang lingkup yang paling kecil yakni kelas. Tentunya di dalam kelas itu kita tidak belajar sendiri, pasti ada teman-teman. Tidak selamanya kita menyendiri di dalam kelas, kita butuh bergaul dengan teman-teman kita. Bergaul tidak hanya menuntut teman yang harus memahami diri kita tapi juga menuntut kita memahami teman. Dengan saling memahami dan menghargai sesama di dalam kelas, maka mewujudkan suasana kelas yang nyaman dan kompak serta menjadi seperti satu keluarga yang utuh dapat diwujudkan.

Contoh lain yang lebih luas yaitu di dalam lingkup jurusan dalam hal ini mahasiswa jurusan Teknik Arsitektur. Secara umum kita tahu bersama bahwa arsitek adalah seorang ahli rancang bangunan. Arsitek tidak hanya memikirkan bagaimana sebuah bangunan atau bahkan lingkup yang lebih luas lagi yakni kota bisa menjadi tempat yang bagus, aman dan nyaman untuk orang lain tapi juga seorang arsitek, apalagi sebagai suatu profesi harus belajar dan mampu bagaimana cara ia “menjual” ide kreatifnya tersebut agar tentunya hal itu dapat pula menyejahterakan hidupnya. Disini pulalah perlunya belajar Ilmu Sosial Dasar untuk menjadi bekal kemampuan berkomunikasi demi mengadapi tantangan dan pergaulan di lingkungan kerja maupun masyarakat. Dengan Ilmu Sosial Dasar pula mahasiswa bisa belajar tentang lingkungan yang dalam tanda kutip kebudayaan yang ada di kampus dan mampu menyesuaikan dan memposisikan dirinya dalam lingkungan kampus. Dengan Ilmu Sosial Dasar, mahasiswa (secara khusus calon arsitek) diajarkan bagaimana mengembangkan kemampuan sosialnya, mengkaji gejala-gejala sosial juga kebudayaan sehingga mampu menghadapi lingkungan sosial budaya agar dapat meningkatkan kepekaan sosial pada lingkungannya. Hal ini sesuai dengan fungsi Ilmu Sosial Dasar, yaitu memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji gejala-gejala social kebudayaan agar daya tanggap, persepsi, dan penalaran mahasiswa dalam menghadapi lingkungan social budaya dapat ditingkatkan sehingga kepekaan mahasiswa pada lingkungannya menjadi lebih besar. (http://fujaresturespati.wordpress.com/2012/12/24/ilmu-sosial-dasar/)

Sebenarnya, siapapun orangnya dan apapun profesi dan latar belakangya, kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi sangat dibutuhkan oleh setiap orang agar sesuai dengan hakikatnya sebagai makhluk sosial dan yang terpenting mampu beradaptasi dengan lingkungannya serta mampu menghadapi tantangan dalam hidupnya.

 

(dibuat untuk memenuhi tugas Ilmu Sosial Dasar)

 

Referensi lain:

http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2012/03/ilmu-sosial-dasar-isd/
http://sigitloveskate.wordpress.com/tugas-ilmu-sosial-dasar-isd/http://ariefsz.blogspot.com/2009/12/isd-pengertian-tujuan-isd-dan-ips.html

buku ISD yang disusun oleh Harwantiyoko dan Neltje F.Katuuk

http://erzaarze10.ngeblogs.com/2011/09/25/hakekat-dan-fungsi-isd-dalam-perguruantinggi/

http://id.wikipedia.org/wiki

thomasyg.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/…/Materi+ISD.pdf

http://erzaarze10.ngeblogs.com/2011/09/25/hakekat-dan-fungsi-isd-dalam-perguruan-tinggi/

http://upp-rohul.clubdiscussion.com/t46-pengertian-isd-ilmu-sosial-dasar

http://www.crayonpedia.org/mw/MASALAH-MASALAH_SOSIAL_DI_LINGKUNGAN_SETEMPAT_4.2_TANTYA_HISNU

 

 

 

Emansipasi Wanita Indonesia

Kita sering mendengar istilah emansipasi. Sebenarnya apakah itu emansipasi?. Menurut Kamus Bahasa Indonesia, emansipasi berarti pembebasan dari perbudakan; persamaan hak antara kaum pria dan kaum wanita. Emansipasi kala ini berkaitan erat dengan kehidupan wanita yang lebih sering kita sebut-sebut emansipasi wanita. Namun, mengapa emansipasi dikaitkan erat dengan wanita? dan mengapa kita jarang mendengar orang lain menyebut emansipasi pria?

Dalam hal ini dikarenakan kaum wanita memiliki nilai dan posisi yang jauh dibawah kaum pria. Wanita sering terlupakan perannya di masyarakat. contoh paling dekat bisa kita lihat di negeri kita sendiri, Indonesia. Banyak kaum wanita yang menjadi korban berbagai macam hal misalnya Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) juga dalam kasus kriminal ataupun pelecehan dan perampasan hak yang semestinya hak, derajat dan martabat mereka tidak hanya harus dilindungi oleh diri mereka sendiri namun pula keluarga, saudara bahkan pemerintah dan terutama kaum pria.

Dari sumber website rakyatmerdekaonline.com Komnas Perempuan mencatat bahwa dalam kurun waktu 13 tahun terakhir tercatat 400.000 lebih kasus kekerasan terhadap perempuan, 46.000 kasus yang dilaporkan diantaranya adalah kasus pelecehan seksual. Sungguh prihatin melihat dan menyaksikan bagaimana banyaknya wanita yang menjadi korban dalam beberapa kasus kriminal atau mungkin bisa dikatakan sebagai ‘boneka’ yang dapat dipermainkan.

Pada zaman sebelum kemerdekaan, kebebasan kaum wanita baru dapat dirasakan setelah para ‘pendekar’ wanita yang pada saat itu berjuang hanya untuk kata emansipasi dan kemerdekaan tidak pernah lelah mencurahkan segala upaya demi martabat dan derajat kaum wanita. seperti R.A Kartini yang merupakan perintis gerakan kaum wanita. Lewat Kartini lah muncul semangat nasionalisme kaum wanita yang melahirkan perjuangan untuk membela martabat dan emansipasi mereka. Dewi Sartika sebagai penerus R.A Kartini dan R.A Sukanto, pemimpn kongres perempuan yang meupakan simbol emansipasi dan kemuliaan kaum wanita. kongres yang diadakan pada tanggal 22 Desember 1928 merupakan peristiwa penting dan  berpengaruh dalam membentuk identitas kebangsaan, karena hal itulah pada tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari ibu.

Sebetulnya, kita juga tidak berhak menyalahkan sepenuhnya kaum pria atas kasus yang banyak menimpa kaum wanita. Faktor individu juga dapat mempengaruhi. Sebagai contoh, jika dilihat dari segi berpakaian tidak bisa dipungkiri banyak wanita yang memakai pakaian yang dapat megundang niat jahat dari kaum pria.

Wanita maupun pria sejatinya adalah makhluk Tuhan yang sama derajatnya. Terlepas dari semua pembahasan, wanita sudah sepantasnya ikut menyuarakan emansipasinya. Namun, sebaiknya jangan sampai melampaui kodrat dan posisi seharusnya ia sebagai wanita  di dalam suatu kehidupan keluarga atau masyarakat apalagi hingga melampaui kaum pria yang sudah menjadi kodratnya untuk menjadi iman atau pemimpin dalam satu keluarga atau dalam kalangan masyarakat. Misalkan, dalam suatu perusahaan  yang dipimpin seorang wanita yang sudah menikah. Di perusahaannya ia adalah pemimpin yang sudah seharusnya ditaati oleh anak buahnya. Namun, di keluarga ia tetaplah seorang istri yang harus taat terhadap suami. Dengan contoh seperti inilah dapat terwujud keseimbangan dan keharmonisan antara wanita dan pria. saling menghormati dan menjaga etika keduanya akan tercipta suasana nyaman dan tidak adanya tindak kejahatan.

 

(ditulis saat masih duduk di bangku SMA kelas XI IPA 2)

 

Tulisan-tulisan ku

September 2013
S S R K J S M
    Okt »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
%d blogger menyukai ini: