Emansipasi Wanita Indonesia

Kita sering mendengar istilah emansipasi. Sebenarnya apakah itu emansipasi?. Menurut Kamus Bahasa Indonesia, emansipasi berarti pembebasan dari perbudakan; persamaan hak antara kaum pria dan kaum wanita. Emansipasi kala ini berkaitan erat dengan kehidupan wanita yang lebih sering kita sebut-sebut emansipasi wanita. Namun, mengapa emansipasi dikaitkan erat dengan wanita? dan mengapa kita jarang mendengar orang lain menyebut emansipasi pria?

Dalam hal ini dikarenakan kaum wanita memiliki nilai dan posisi yang jauh dibawah kaum pria. Wanita sering terlupakan perannya di masyarakat. contoh paling dekat bisa kita lihat di negeri kita sendiri, Indonesia. Banyak kaum wanita yang menjadi korban berbagai macam hal misalnya Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) juga dalam kasus kriminal ataupun pelecehan dan perampasan hak yang semestinya hak, derajat dan martabat mereka tidak hanya harus dilindungi oleh diri mereka sendiri namun pula keluarga, saudara bahkan pemerintah dan terutama kaum pria.

Dari sumber website rakyatmerdekaonline.com Komnas Perempuan mencatat bahwa dalam kurun waktu 13 tahun terakhir tercatat 400.000 lebih kasus kekerasan terhadap perempuan, 46.000 kasus yang dilaporkan diantaranya adalah kasus pelecehan seksual. Sungguh prihatin melihat dan menyaksikan bagaimana banyaknya wanita yang menjadi korban dalam beberapa kasus kriminal atau mungkin bisa dikatakan sebagai ‘boneka’ yang dapat dipermainkan.

Pada zaman sebelum kemerdekaan, kebebasan kaum wanita baru dapat dirasakan setelah para ‘pendekar’ wanita yang pada saat itu berjuang hanya untuk kata emansipasi dan kemerdekaan tidak pernah lelah mencurahkan segala upaya demi martabat dan derajat kaum wanita. seperti R.A Kartini yang merupakan perintis gerakan kaum wanita. Lewat Kartini lah muncul semangat nasionalisme kaum wanita yang melahirkan perjuangan untuk membela martabat dan emansipasi mereka. Dewi Sartika sebagai penerus R.A Kartini dan R.A Sukanto, pemimpn kongres perempuan yang meupakan simbol emansipasi dan kemuliaan kaum wanita. kongres yang diadakan pada tanggal 22 Desember 1928 merupakan peristiwa penting dan  berpengaruh dalam membentuk identitas kebangsaan, karena hal itulah pada tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari ibu.

Sebetulnya, kita juga tidak berhak menyalahkan sepenuhnya kaum pria atas kasus yang banyak menimpa kaum wanita. Faktor individu juga dapat mempengaruhi. Sebagai contoh, jika dilihat dari segi berpakaian tidak bisa dipungkiri banyak wanita yang memakai pakaian yang dapat megundang niat jahat dari kaum pria.

Wanita maupun pria sejatinya adalah makhluk Tuhan yang sama derajatnya. Terlepas dari semua pembahasan, wanita sudah sepantasnya ikut menyuarakan emansipasinya. Namun, sebaiknya jangan sampai melampaui kodrat dan posisi seharusnya ia sebagai wanita  di dalam suatu kehidupan keluarga atau masyarakat apalagi hingga melampaui kaum pria yang sudah menjadi kodratnya untuk menjadi iman atau pemimpin dalam satu keluarga atau dalam kalangan masyarakat. Misalkan, dalam suatu perusahaan  yang dipimpin seorang wanita yang sudah menikah. Di perusahaannya ia adalah pemimpin yang sudah seharusnya ditaati oleh anak buahnya. Namun, di keluarga ia tetaplah seorang istri yang harus taat terhadap suami. Dengan contoh seperti inilah dapat terwujud keseimbangan dan keharmonisan antara wanita dan pria. saling menghormati dan menjaga etika keduanya akan tercipta suasana nyaman dan tidak adanya tindak kejahatan.

 

(ditulis saat masih duduk di bangku SMA kelas XI IPA 2)

 

Iklan

Tulisan-tulisan ku

September 2013
S S R K J S M
    Okt »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
%d blogger menyukai ini: