Punya Potensi, Kenapa Harus Impor?

Indonesia merupakan Negara yang kaya dengan potensi alamnya yang luar biasa. Salah satunya di bidang pangan, Indonesia yang merupakan Negara agraris yang memiliki lahan yang subur seharusnya dapat memenuhi kebutuhan pangannya. Namun pada kenyataannya, Indonesia masih belum sanggup memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Pasokan pangan masyarakat di tanah air  masih dipenuhi dengan mengimpor dari negara lain seperti Thailand, Vietnam bahkan Madagaskar.

Beras misalnya, yang merupakan bahan pangan pokok diimpor oleh Indonesia mencapai 239,31 juta kg dari berbagai Negara seperti Vietnam, Thailand, Pakistan, India dan Myanmar. Jagung yang diimpor sebanyak 1,29 miliar kg dari  India, Argentina, Brazil, Paraguay, Amerika Serikat dan lainnya. Kedelai(826,33 juta kg), Tepung Terigu (82,5 juta kg) dan masih banyak lagi bahan pangan yang diimpor Indonesia yang seharusnya mampu disediakan sendiri.

Impor bahan pangan yang terjadi salah satunya disebabkan karena Indonesia belum memiliki kemandirian pangan yang dalam arti menggali, mengolah, mengembangkan dan memajukan potensi pangan yang dimilikinya. Hal ini dapat dilihat dari segi sumber daya, infrastruktur dan kebijakan yang justru terkadang menghambat kemandirian pangan tersebut.

Kita ambil contoh dari impor beras. Dari sisi produsen pangan utama, petani dalam hal ini, jumlahnya masih sangat dominan di Indonesia. Berdasarkan sensus pertanian masih terdapat 25 juta rumah tangga petani, dengan rata-rata pertumbuhan 2,2% per tahun, bahkan 46% tenaga kerja masih bekerja di sektor pertanian, suatu jumlah yang sangat besar. Namun di sisi sumber daya pertanian seperti, tanah, air, benih, dan dukungan infrastruktur dan kebijakan pertanian justru menghambat produksi pertanian nasional. Alih fungsi lahan pertanian menjadi perkebunan monokultur (sawit khususnya), tambang dan infrastruktur sebesar 230.000 hektar per tahun akan mempengaruhi penurunan produksi pangan dengan cepat, pengusaan sumber daya air oleh sejumlah perusahaan swasta seperti di Sukabumi, Jawa Tengah dan beberapa daerah lain serta kondisi irigasi yang buruk juga mempengaruhi produksi dan produktifitas tanaman pangan. Di sisi lain kebijakan pertanian justru membuka pintu impor pangan besar-besaran, hal ini menurunkan insentif bagi petani untuk terus berproduksi, seperti contohnya pada petani kedelai yang sempat mengalami swasembada pada awal tahun 1990an namun mendapat gempuran kedelai impor murah membuat mereka kalah bersaing sehingga saat ini kita harus mengimpor 70% kebutuhan kedelai kita.

Dari contoh kasus diatas, sudah selayaknya kita sebagai bangsa Indonesia terutama pemerintah memperbaiki ketahanan pangan nasional agar sebagai Negara yang memiliki potensi pangan yang tinggi dapat menyejahterakan rakyatnya di Negara sendiri. Dengan megurangi jumlah impor bahan pangan bisa menjadi salah satu langkah awal yang dapat membantu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor pangan. Indonesia yang rata-rata per tahun mengeluarkan Rp 110 trilyun untuk impor pangan, sementara nilai pembiayaan, contohnya pertanian dalam APBN hanya Rp 38,2 trilyun. Jika biaya yang dikeluarkan untuk impor bisa dialihkan untuk membangun pertanian dalam negeri, perbaikan irigasi dan infrastruktur pertanian lainnya, menjaga stabilitas harga baik di tingkat produsen maupun konsumen tentu pertanian dalam negeri akan lebih berkembang. Dengan seperti itu Indonesia tidak hanya sekedar nama dijuluki Negara agraris namun dapat mengembangkan bahkan memajukan sendiri potensi pangannya.

 

referensi :

www.google.com

http://www.tempo.co/read/news/2013/08/06/092502624/Penyebab-Indonesia-Bergantung-pada-Produk-Impor

http://bisnis.liputan6.com/read/657271/daftar-28-bahan-pokok-yang-masih-diimpor-indonesia

http://www.spi.or.id/?p=4072

www.wikipedia.com

 

Iklan

Tulisan-tulisan ku

Maret 2014
S S R K J S M
« Nov   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
%d blogger menyukai ini: