PENGARUH FRANCHISE TERHADAP NASIONALISME DAN GLOBALISASI DI INDONESIA

Waralaba (InggrisFranchising ; PrancisFranchise) untuk kejujuran atau kebebasan) adalah hak-hak untuk menjual suatu produk atau jasa maupun layanan. Sedangkan menurut versi pemerintah Indonesia, yang dimaksud dengan waralaba adalah perikatan dimana salah satu pihak diberikan hak memanfaatkan dan atau menggunakan hak darikekayaan intelektual (HAKI) atau pertemuan dari ciri khas usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan oleh pihak lain tersebut dalam rangka penyediaan dan atau penjualan barang dan jasa.

Menurut Asosiasi Franchise Indonesia, yang dimaksud dengan Waralaba ialah suatu sistem pendistribusian barang atau jasa kepada pelanggan akhir, dimana pemilik merek (franchisor) memberikan hak kepada individu atau perusahaan untuk melaksanakan bisnis dengan merek, nama, sistem, prosedur dan cara-cara yang telah ditetapkan sebelumnya dalam jangka waktu tertentu meliputi area tertentu.

Jenis Waralaba :

  1. Waralaba luar negeri, cenderung lebih disukai karena sistemnya lebih jelas, merek sudah diterima diberbagai dunia, dan dirasakan lebih bergengsi.
  2. Waralaba dalam negeri, juga menjadi salah satu pilihan investasi untuk orang-orang yang ingin cepat menjadi pengusaha tetapi tidak memiliki pengetahuan cukup piranti awal dan kelanjutan usaha ini yang disediakan oleh pemilik waralaba.

 Franchise dapat mempengaruhi rasa Nasionalisme rakyat Indonesia, mengapa dikatakan demikian? Franchise atau waralaba seperti pengertian diatas tidak hanya berasal dari Indonesia, namun banyak pula franchise yang berasal dari luar negeri. Franchise sendiri merupakan salah satu dampak globalisasi di bidang ekonomi. Bicara tentang globalisasi tentu terdapat hal positif maupun negatif. Keberadaan franchise membuka pasar internasional, meningkatkan kesempatan kerja dan meningkatkan devisa negara. Dengan adanya hal tersebut akan meningkatkan kehidupan ekonomi bangsa yang menunjang kehidupan nasional bangsa.

            Pengaruh franchise terhadap nasionalisme adalah hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri karena banyaknya produk luar negeri (seperti Mc Donald, Coca Cola, Pizza Hut,dll.) membanjiri di Indonesia. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia. Bangsa yang masyarakatnya kurang nasionalisme cenderung meniru budaya barat dalam hal gaya hidup yang tentu itu merupakan suatu indikasi akan hilangnya identitas bangsa. Masalah identitas bangsa ini erat kaitannya dengan kaum muda yang banyak terpengaruh budaya barat.

 

Referensi :

http://id.wikipedia.org/wiki/Waralaba

http://rohimston.blogspot.com/2010/02/pengaruh-globalisasi-terhadap-kehidupan.html

http://hasan-imaduddin.blog.ugm.ac.id/2011/12/30/masuknya-waralaba-asing-di-indonesia/

 

Iklan

PEDOFILIA DAN SOLUSINYA

Pedofilia  didefinisikan sebagai gangguan kejiwaan pada orang dewasa atau remaja yang telah mulai dewasa (pribadi dengan usia 16 atau lebih tua) biasanya ditandai dengan suatu kepentingan seksual primer atau eksklusif pada anak prapuber (umumnya usia 13 tahun atau lebih muda, walaupun pubertas dapat bervariasi). Anak harus minimal lima tahun lebih muda dalam kasus pedofilia remaja (16 atau lebih tua) baru dapat diklasifikasikan sebagai pedofilia.

Klasifikasi Penyakit Internasional (ICD) mendefinisikan pedofilia sebagai gangguan kepribadian dewasa dan perilaku di mana ada pilihan seksual untuk anak-anak pada usia pubertas atau pada masa prapubertas awal.

Diagnostik dan Statistik Manual Gangguan Jiwa (DSM), pedofilia adalah parafilia di mana seseorang memiliki hubungan yang kuat dan berulang terhadap dorongan seksual dan fantasi tentang anak-anak prapuber dan di mana perasaan mereka memiliki salah satu peran atau yang menyebabkan penderitaan atau kesulitan interpersonal.

Dari beberapa pengertian diatas, dapat kita simpulkan bahwa pedofilia merupakan suatu gangguan kejiwaan yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan seksual dimana anak-anak yang menjadi sasarannya. Pedofilia dikatakan sebagai suatu masalah karena dilihat dari beberapa sisi, diantaranya, pedofilia merupakan suau gangguan kejiwaan yang artinya merupakan suatu penyakit (masalah) yang sudah seharusnya diobati. Sasaran pedofil yakni anak-anak yang tidak sepantasnya menjadi pemuas kebutuhan seksual dan hal ini juga merupakan pelanggaran hukum tentang perlindungan anak.

Jelas bahwa pedofilia tidak hanya merupakan penyakit kejiwaan namun juga termasuk pelanggran hukum karena termasuk pelecehan seksual kepada anak  dimana pelakunya dapat dijerat hukuman pidana. Pedofilia muncul karena ketidakmampuan berhubungan sesama dewasa atau adanya ketakutan wanita untuk menjalin hubungan dengan sesama dewasa 

Dampak penganiayaan seksual pada anak :

  1. Berbagai masalah kecemasan seperti fobia, insomnia dan sebagainya dan dapat juga berupa gangguan stress pasca trauma
  2. Gejala diosiatif dan histerik
  3. Rasa rendah diri dan kecenderungan untuk bunuh diri yang menunjukkan terdapatnya depresi
  4. Keluhan somatik seperti enuresis, enkoporesis, serta keluhan somatik lainnya
  5. Gangguan perilaku sosial      

Dampak diatas tentu hanya beberapa dari banyaknya dampak yang dirasakan korban pedofilia.  Bisa kita bayangkan bagaimana ironisnya kondisi anak yang mengalami pelecehan seksual dalam hal ini pedofilia. Rantai pedofilia sebenarnya dapat diputus atau ditanggulangi dengan berbagai cara 

Dari pihak pedofilian (pelaku) :

  1. periksa kejiwaannya/psikiater 
  2. diberikan terapy 

 

 

Referensi :

 https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20130303055057AAY4E5C

http://www.slideshare.net/farickin/phedofilia-ppt

http://www.depkes.go.id/downloads/Psikososial.PDF

http://www.slideshare.net/farickin/phedofilia-ppt

https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20100524155429AAoPpr0

 

Dari pihak korban :

  1. peran keluarga yang menjaga dan mengawasi pergaulan anak
  2. memberi pengetahuan seksual kepada anak yang penyampaiannya sesuai dengan usia mereka
  3. membatasi pergaulan anak dengan orang dewasa yang berpotensi menjadi pedofilian dengan pegetahuan orang tua mengenai pedofilia
  4. anak-anak harus diajarkan untuk mencegah situasi yang membuat mereka rawan terhadap pedofilia

LOKALISASI

  1. Tuliskan tanggapan dan jalan keluar tentang lokalisasi

Lokalisasi adalah tempat berlangsungnya kegiatan prostitusi. Soedjono D menyinggung pengertian lokalisasi sebagai sebentuk usaha untuk mengumpulkan segala macam aktivitas/kegiatan pelacuran dalam satu wadah, selanjutnya hal ini disebutnya sebagai kebijaksanaan lokalisasi pelacuran

Sedangkan Prostitusi atau bahasa awamnya pelacuran, disini dimaknai sebagai sebuah tindakan yang mempergunakan alat kelamin dan bagian-bagian tubuh tertentu sebagai komoditas jasa dan untuk memperoleh materi melalui kegiatan yang bersifat seksual. Soedjono mendefinisikan prostitusi dari asal kata “prostituere” (bahasa latin) yang berarti menonjolkan diri dalam hal yang buruk atau tercela atau menyerahkan diri secara terang-terangan kepada umum. 

Dari pengertian diatas, lokalisasi merupakan tempat dimana perbuatan tercela berlangsung. Lokalisasi sudah tentu bermakna negatif dan membawa dampak buruk bagi lingkungan sekitar terutama bagi si pelaku prostitusi. Seperti yang kita ketahui, lingkungan merupakan salah satu yang mempengaruhi pola pikir dan perilaku seseorang atau banyak orang. Lingkungan yang “sehat” akan membentuk perilaku dan pola pikir yang “sehat” begitu pula sebaliknya. Maka dari itu, bisa kita bayangkan bagaimana pola perilaku dan pergaulan seseorang bahkan masyarakat yang tinggal di sekitar tempat lokalisasi. Lingkungan sekitar lokalisasi juga dapat membawa pengaruh negatif bagi pergaulan remaja. Mengapa dikatakan demikian? Remaja merupakan masa “pencarian jati diri” dimana pola pikir yang masih labil mudah untuk dipengaruhi tanpa mempertimbangkan baik buruknya. Remaja yang berkembang di lingkungan yang negatif dikhawatirkan akan membentuk pribadi yang negatif ketika mereka dewasa.

Prostitusi pada dasarnya adalah suatu kegiatan yang membawa dampak buruk tidak hanya bagi seorang individu namun juga masyarakat yang tinggal di lingkungan lokalisasi. Lokalisasi seharusnya tidak dibiarkan berlangsung agar tidak “melukai” lingkungan sosial di sekitarnya. Kerja sama antara pemerintah yang berwenang dan masyarakat di sekitar lokalisasi sangat diperlukan.

 

 

Referesi :

http://hiburan.kompasiana.com/musik/2011/08/16/tema-cinta-tanah-air-dalam-lagu-pop-indonesia-388875.html

http://ikhwanm.blogspot.com/2007/07/prostitusi-dan-lokalisasi-faktor-faktor.html

 

CALON LEGISLATIF

  1. Bagaimana tanggapan anda jika anda menjadi calon legislatif

 

Menurut saya, yang terutama menjadi calon legislatif  adalah jangan banyak mengumbar janji. Karena janji itu berat tanggung jawabnya. Berusaha berbuat semampunya secara maksimal agar bermanfaat untuk rakyat jika terpilih menjadi anggota legislatif. Mempersiapkan diri untuk menjaga amanah dan tugas yang berat sebagai anggota legislatif. Perhatikan setiap visi dan misi yang kita buat, bermanfaat atau tidak bagi rakyat, menyejahterakan rakyat atau justru menyengsarakan rakyat.    

 

Referensi :

http://hiburan.kompasiana.com/musik/2011/08/16/tema-cinta-tanah-air-dalam-lagu-pop-indonesia-388875.html

http://ikhwanm.blogspot.com/2007/07/prostitusi-dan-lokalisasi-faktor-faktor.html

LAMBANG PROVINSI BERGAMBAR BUNGA

Gambar

Lambang Sumatera Selatan berbentuk perisai bersudut lima. Di dalamnya terdapat lukisan bunga teratai, batang hari sembilan, jembatan Ampera dan gunung serta di atasnya terdapat atap rumah khas Sumatera Selatan.

Bunga teratai berkelopak lima berarti keberanian dan keadilan berdasarkan Pancasila. Batang hari sembilan adalah nama lain provinsi Sumatera Selatan yang memiliki sembilan sungai. Jembatan Ampera merupakan ciri yang menjadi kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan. Gunung memiliki makna daerah pegunungan yang banyak terdapat di Sumatera Selatan. Sedangkan atap khas Sumatera Selatan yang berujung 17 dan 8 garis genting dan 45 buah genting merupakan simbol kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945

 

Referensi :

www.google.com

http://www.tempo.co/read/news/2013/08/06/092502624/Penyebab-Indonesia-Bergantung-pada-Produk-Impor

http://bisnis.liputan6.com/read/657271/daftar-28-bahan-pokok-yang-masih-diimpor-indonesia

http://www.spi.or.id/?p=4072

www.wikipedia.com

PAHLAWAN NASIONAL : KI HADJAR DEWANTARA

Gambar

Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, sejak 1922 menjadi Ki Hadjar Dewantara, lahir di Yogyakarta2 Mei 1889 (meninggal di Yogyakarta, 26 April 1959 pada umur 69 tahun selanjutnya disingkat sebagai “Soewardi” atau “KHD”) adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.

Tanggal kelahirannya sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Bagian dari semboyan ciptaannya, tut wuri handayani, menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia. Namanya diabadikan sebagai salah sebuah nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Potret dirinya diabadikan pada uang kertas pecahan 20.000 rupiah tahun emisi 1998. Ia dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang ke-2 oleh Presiden RI, Soekarno, pada 28 November 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959)

 

Masa Muda

Soewardi berasal dari lingkungan keluarga Keraton Yogyakarta. Ia menamatkan pendidikan dasar di ELS (Sekolah Dasar Eropa/Belanda). Kemudian sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tapi tidak sampai tamat karena sakit. Kemudian ia bekerja sebagai penulis dan wartawandi beberapa surat kabar, antara lain, SediotomoMidden JavaDe ExpresOetoesan HindiaKaoem MoedaTjahaja Timoer, dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya komunikatif dan tajam dengan semangat antikolonial.

 

Aktivitas Pergerakan

Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Sejak berdirinya Boedi Oetomo (BO) tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda untuk menyosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia (terutama Jawa) pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kongres pertama BO di Yogyakarta juga diorganisasi olehnya.

Soewardi muda juga menjadi anggota organisasi Insulinde, suatu organisasi multietnik yang didominasi kaum Indo yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda, atas pengaruh Ernest Douwes Dekker (DD). Ketika kemudian DD mendirikan Indische Partij, Soewardi diajaknya pula.

Sewaktu pemerintah Hindia Belanda berniat mengumpulkan sumbangan dari warga, termasuk pribumi, untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis pada tahun 1913, timbul reaksi kritis dari kalangan nasionalis, termasuk Soewardi. Ia kemudian menulis “Een voor Allen maar Ook Allen voor Een” atau “Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga”. Namun kolom KHD yang paling terkenal adalah “Seandainya Aku Seorang Belanda” (judul asli: “Als ik een Nederlander was”), dimuat dalam surat kabar De Expres pimpinan DD, 13 Juli 1913. Isi artikel ini terasa pedas sekali di kalangan pejabat Hindia Belanda. Kutipan tulisan tersebut antara lain sebagai berikut.

“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya”.

Beberapa pejabat Belanda menyangsikan tulisan ini asli dibuat oleh Soewardi sendiri karena gaya bahasanya yang berbeda dari tulisan-tulisannya sebelum ini. Kalaupun benar ia yang menulis, mereka menganggap DD berperan dalam memanas-manasi Soewardi untuk menulis dengan gaya demikian.

Akibat tulisan ini ia ditangkap atas persetujuan Gubernur Jenderal Idenburg dan akan diasingkan ke Pulau Bangka (atas permintaan sendiri). Namun demikian kedua rekannya, DD dan Tjipto Mangoenkoesoemo, memprotes dan akhirnya mereka bertiga diasingkan ke Belanda (1913). Ketiga tokoh ini dikenal sebagai “Tiga Serangkai”. Soewardi kala itu baru berusia 24 tahun.

Dalam pengasingan di Belanda, Soewardi aktif dalam organisasi para pelajar asal Indonesia, Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia). Di sinilah ia kemudian merintis cita-citanya memajukan kaum pribumi dengan belajar ilmu pendidikan hingga memperoleh Europeesche Akte, suatu ijazah pendidikan yang bergengsi yang kelak menjadi pijakan dalam mendirikan lembaga pendidikan yang didirikannya. Dalam studinya ini Soewardi terpikat pada ide-ide sejumlah tokoh pendidikan Barat, seperti Froebel dan Montessori, serta pergerakan pendidikan IndiaSantiniketan, oleh keluarga Tagore. Pengaruh-pengaruh inilah yang mendasarinya dalam mengembangkan sistem pendidikannya sendiri.

 

Taman Siswa

Soewardi kembali ke Indonesia pada bulan September 1919. Segera kemudian ia bergabung dalam sekolah binaan saudaranya. Pengalaman mengajar ini kemudian digunakannya untuk mengembangkan konsep mengajar bagi sekolah yang ia dirikan pada tanggal 3 Juli 1922Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa. Saat ia genap berusia 40 tahun menurut hitungan penanggalan Jawa, ia mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun jiwa.

Semboyan dalam sistem pendidikan yang dipakainya kini sangat dikenal di kalangan pendidikan Indonesia. Secara utuh, semboyan itu dalam bahasa Jawa berbunyi ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. (“di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan”). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan rakyat Indonesia, terlebih di sekolah-sekolah Perguruan Taman Siswa.

 

Pengabdian pada Masa Indonesia Merdeka

Dalam kabinet pertama Republik Indonesia, KHD diangkat menjadi Menteri Pengajaran Indonesia (posnya disebut sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan) yang pertama. Pada tahun 1957 ia mendapat gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa, Dr.H.C.) dari universitas tertua Indonesia, Universitas Gadjah Mada. Atas jasa-jasanya dalam merintis pendidikan umum, ia dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan hari kelahirannya dijadikan Hari Pendidikan Nasional (Surat Keputusan Presiden RI no. 305 tahun 1959, tanggal 28 November 1959). Ia meninggal dunia di Yogyakarta tanggal 26 April 1959 dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata.

 

Referensi :

www.google.com

http://www.tempo.co/read/news/2013/08/06/092502624/Penyebab-Indonesia-Bergantung-pada-Produk-Impor

http://bisnis.liputan6.com/read/657271/daftar-28-bahan-pokok-yang-masih-diimpor-indonesia

http://www.spi.or.id/?p=4072

www.wikipedia.com

TOKOH WAYANG : SEMAR

Gambar

 

Kyai Lurah Semar Badranaya adalah nama tokoh panakawan paling utama dalam pewayangan Jawa dan Sunda. Tokoh ini dikisahkan sebagai pengasuh sekaligus penasihat para kesatria dalam pementasan kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana. Tentu saja nama Semar tidak ditemukan dalam naskah asli kedua wiracarita tersebut yang berbahasa Sanskerta, karena tokoh ini merupakan asli ciptaan pujangga Jawa.

Sejarah Semar

Menurut sejarawan Prof. Dr. Slamet Muljana, tokoh Semar pertama kali ditemukan dalam karya sastra zaman Kerajaan Majapahit berjudul Sudamala. Selain dalam bentuk kakawin, kisah Sudamala juga dipahat sebagai relief dalam Candi Sukuh yang berangka tahun 1439.

Semar dikisahkan sebagai abdi atau hamba tokoh utama cerita tersebut, yaitu Sahadewa dari keluarga Pandawa. Tentu saja peran Semar tidak hanya sebagai pengikut saja, melainkan juga sebagai pelontar humor untuk mencairkan suasana yang tegang.

Pada zaman berikutnya, ketika kerajaan-kerajaan Islam berkembang di Pulau Jawa, pewayangan pun dipergunakan sebagai salah satu media dakwah. Kisah-kisah yang dipentaskan masih seputar Mahabharata yang saat itu sudah melekat kuat dalam memori masyarakat Jawa. Salah satu ulama yang terkenal sebagai ahli budaya, misalnya Sunan Kalijaga. Dalam pementasan wayang, tokoh Semar masih tetap dipertahankan keberadaannya, bahkan peran aktifnya lebih banyak daripada dalam kisah Sudamala.

Dalam perkembangan selanjutnya, derajat Semar semakin meningkat lagi. Para pujangga Jawa dalam karya-karya sastra mereka mengisahkan Semar bukan sekadar rakyat jelata biasa, melainkan penjelmaan Batara Ismaya, kakak dari Batara Guru, raja para dewa.

Asal-usul Kelahiran

Dalam naskah Serat Kanda dikisahkan, penguasa kahyangan bernama Sanghyang Nurrasa memiliki dua orang putra bernama Sanghyang Tunggal dan Sanghyang Wenang. Karena Sanghyang Tunggal berwajah jelek, maka takhta kahyangan pun diwariskan kepada Sanghyang Wenang. Dari Sanghyang Wenang kemudian diwariskan kepada putranya yang bernama Batara Guru. Sanghyang Tunggal kemudian menjadi pengasuh para kesatria keturunan Batara Guru, dengan nama Semar.

Dalam naskah Paramayoga dikisahkan, Sanghyang Tunggal adalah anak dari Sanghyang Wenang. Sanghyang Tunggal kemudian menikah dengan Dewi Rakti, seorang putri raja jin kepiting bernama Sanghyang Yuyut. Dari perkawinan itu lahir sebutir mustika berwujud telur yang kemudian berubah menjadi dua orang pria. Keduanya masing-masing diberi nama Ismaya untuk yang berkulit hitam, dan Manikmaya untuk yang berkulit putih. Ismaya merasa rendah diri sehingga membuat Sanghyang Tunggal kurang berkenan. Takhta kahyangan pun diwariskan kepada Manikmaya, yang kemudian bergelar Batara Guru. Sementara itu Ismaya hanya diberi kedudukan sebagai penguasa alam Sunyaruri, atau tempat tinggal golongan makhluk halus. Putra sulung Ismaya yang bernama Batara Wungkuham memiliki anak berbadan bulat bernama Janggan Smarasanta, atau disingkat Semar. Ia menjadi pengasuh keturunan Batara Guru yang bernama Resi Manumanasa dan berlanjut sampai ke anak-cucunya. Dalam keadaan istimewa, Ismaya dapat merasuki Semar sehingga Semar pun menjadi sosok yang sangat ditakuti, bahkan oleh para dewa sekalipun. Jadi menurut versi ini, Semar adalah cucu dari Ismaya.

Dalam naskah Purwakanda dikisahkan, Sanghyang Tunggal memiliki empat orang putra bernama Batara Puguh, Batara Punggung, Batara Manan, dan Batara Samba. Suatu hari terdengar kabar bahwa takhta kahyangan akan diwariskan kepada Samba. Hal ini membuat ketiga kakaknya merasa iri. Samba pun diculik dan disiksa hendak dibunuh. Namun perbuatan tersebut diketahui oleh ayah mereka. Sanghyang Tunggal pun mengutuk ketiga putranya tersebut menjadi buruk rupa. Puguh berganti nama menjadi Togog sedangkan Punggung menjadi Semar. Keduanya diturunkan ke dunia sebagai pengasuh keturunan Samba, yang kemudian bergelar Batara Guru. Sementara itu Manan mendapat pengampunan karena dirinya hanya ikut-ikutan saja. Manan kemudian bergelar Batara Narada dan diangkat sebagai penasihat Batara Guru.

Dalam naskah Purwacarita dikisahkan, Sanghyang Tunggal menikah dengan Dewi Rekatawati putra Sanghyang Rekatatama. Dari perkawinan itu lahir sebutir telur yang bercahaya. Sanghyang Tunggal dengan perasaan kesal membanting telur itu sehingga pecah menjadi tiga bagian, yaitu cangkang, putih, dan kuning telur. Ketiganya masing-masing menjelma menjadi laki-laki. Yang berasal dari cangkang diberi nama Antaga, yang berasal dari putih telur diberi nama Ismaya, sedangkan yang berasal dari kuningnya diberi nama Manikmaya. Pada suatu hari Antaga dan Ismaya berselisih karena masing-masing ingin menjadi pewaris takhta kahyangan. Keduanya pun mengadakan perlombaan menelan gunung. Antaga berusaha melahap gunung tersebut dengan sekali telan namun justru mengalami kecelakaan. Mulutnya robek dan matanya melebar. Ismaya menggunakan cara lain, yaitu dengan memakan gunung tersebut sedikit demi sedikit. Setelah melewati bebarpa hari seluruh bagian gunung pun berpindah ke dalam tubuh Ismaya, namun tidak berhasil ia keluarkan. Akibatnya sejak saat itu Ismaya pun bertubuh bulat. Sanghyang Tunggal murka mengetahui ambisi dan keserakahan kedua putranya itu. Mereka pun dihukum menjadi pengasuh keturunan Manikmaya, yang kemudian diangkat sebagai raja kahyangan, bergelar Batara Guru. Antaga dan Ismaya pun turun ke dunia. Masing-masing memakai nama Togog dan Semar. 

Bentuk Fisik

Semar memiliki bentuk fisik yang sangat unik, seolah-olah ia merupakan simbol penggambaran jagad raya. Tubuhnya yang bulat merupakan simbol dari bumi, tempat tinggal umat manusia dan makhluk lainnya. Semar selalu tersenyum, tapi bermata sembab. Penggambaran ini sebagai simbol suka dan duka. Wajahnya tua tapi potongan rambutnya bergaya kuncung seperti anak kecil, sebagai simbol tua dan muda. Ia berkelamin laki-laki, tapi memiliki payudara seperti perempuan, sebagai simbol pria dan wanita. Ia penjelmaan dewa tetapi hidup sebagai rakyat jelata, sebagai simbol atasan dan bawahan.

Keistimewaan Semar

Semar merupakan tokoh pewayangan ciptaan pujangga lokal. Meskipun statusnya hanya sebagai abdi, namun keluhurannya sejajar dengan Prabu Kresna dalam kisah Mahabharata. Jika dalam perang Baratayuda menurut versi aslinya, penasihat pihak Pandawa hanya Kresna seorang, maka dalam pewayangan, jumlahnya ditambah menjadi dua, dan yang satunya adalah Semar.

Semar dalam karya sastra hanya ditampilkan sebagai pengasuh keturunan Resi Manumanasa, terutama para Pandawa yang merupakan tokoh utama kisah Mahabharata. Namun dalam pementasan wayang yang bertemakanRamayana, para dalang juga biasa menampilkan Semar sebagai pengasuh keluarga Sri Rama ataupun Sugriwa. Seolah-olah Semar selalu muncul dalam setiap pementasan wayang, tidak peduli apapun judul yang sedang dikisahkan.

Dalam pewayangan, Semar bertindak sebagai pengasuh golongan kesatria, sedangkan Togog sebagai pengasuh kaum raksasa. Dapat dipastikan anak asuh Semar selalu dapat mengalahkan anak asuh Togog. Hal ini sesungguhnya merupakan simbol belaka. Semar merupakan gambaran perpaduan rakyat kecil sekaligus dewa kahyangan. Jadi, apabila para pemerintah – yang disimbolkan sebagai kaum kesatria asuhan Semar – mendengarkan suara rakyat kecil yang bagaikan suara Tuhan, maka negara yang dipimpinnya pasti menjadi nagara yang unggul dan sentosa.

 

Referensi :

www.google.com

http://www.tempo.co/read/news/2013/08/06/092502624/Penyebab-Indonesia-Bergantung-pada-Produk-Impor

http://bisnis.liputan6.com/read/657271/daftar-28-bahan-pokok-yang-masih-diimpor-indonesia

http://www.spi.or.id/?p=4072

www.wikipedia.com

 

 

 

TUGAS ILMU BUDAYA DASAR

Pedofilia dan Solusinya

Pedofilia  didefinisikan sebagai gangguan kejiwaan pada orang dewasa atau remaja yang telah mulai dewasa (pribadi dengan usia 16 atau lebih tua) biasanya ditandai dengan suatu kepentingan seksual primer atau eksklusif pada anak prapuber (umumnya usia 13 tahun atau lebih muda, walaupun pubertas dapat bervariasi). Anak harus minimal lima tahun lebih muda dalam kasus pedofilia remaja (16 atau lebih tua) baru dapat diklasifikasikan sebagai pedofilia.

Klasifikasi Penyakit Internasional (ICD) mendefinisikan pedofilia sebagai gangguan kepribadian dewasa dan perilaku di mana ada pilihan seksual untuk anak-anak pada usia pubertas atau pada masa prapubertas awal.

Diagnostik dan Statistik Manual Gangguan Jiwa (DSM), pedofilia adalah parafilia di mana seseorang memiliki hubungan yang kuat dan berulang terhadap dorongan seksual dan fantasi tentang anak-anak prapuber dan di mana perasaan mereka memiliki salah satu peran atau yang menyebabkan penderitaan atau kesulitan interpersonal.

Dari beberapa pengertian diatas, dapat kita simpulkan bahwa pedofilia merupakan suatu gangguan kejiwaan yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan seksual dimana anak-anak yang menjadi sasarannya. Pedofilia dikatakan sebagai suatu masalah karena dilihat dari beberapa sisi, diantaranya, pedofilia merupakan suau gangguan kejiwaan yang artinya merupakan suatu penyakit (masalah) yang sudah seharusnya diobati. Sasaran pedofil yakni anak-anak yang tidak sepantasnya menjadi pemuas kebutuhan seksual dan hal ini juga merupakan pelanggaran hukum tentang perlindungan anak.

Jelas bahwa pedofilia tidak hanya merupakan penyakit kejiwaan namun juga termasuk pelanggran hukum karena termasuk pelecehan seksual kepada anak  dimana pelakunya dapat dijerat hukuman pidana. Pedofilia muncul karena ketidakmampuan berhubungan sesama dewasa atau adanya ketakutan wanita untuk menjalin hubungan dengan sesama dewasa.

Dampak penganiayaan seksual pada anak :

  1. Berbagai masalah kecemasan seperti fobia, insomnia dan sebagainya dan dapat juga berupa gangguan stress pasca trauma
  2. Gejala diosiatif dan histerik
  3. Rasa rendah diri dan kecenderungan untuk bunuh diri yang menunjukkan terdapatnya depresi
  4. Keluhan somatik seperti enuresis, enkoporesis, serta keluhan somatik lain
  5. Gangguan perilaku sosial     

    Dampak diatas tentu hanya beberapa dari banyaknya dampak yang dirasakan korban pedofilia.  Bisa kita bayangkan bagaimana ironisnya kondisi anak yang mengalami pelecehan seksual dalam hal ini pedofilia. Rantai pedofilia sebenarnya dapat diputus atau ditanggulangi dengan berbagai cara 

    Dari pihak pedofilian (pelaku) :

    1. periksa kejiwaannya/psikiater 
    2. diberikan terapy 

    Dari pihak korban :

    1. peran keluarga yang menjaga dan mengawasi pergaulan anak
    2. memberi pengetahuan seksual kepada anak yang penyampaiannya sesuai dengan usia mereka
    3. membatasi pergaulan anak dengan orang dewasa yang berpotensi menjadi pedofilian dengan pegetahuan orang tua mengenai pedofilia
    4. anak-anak harus diajarkan untuk mencegah situasi yang membuat mereka rawan terhadap pedofilia

Pengaruh Franchise terhadap Nasionalisme di Indonesia

Waralaba (InggrisFranchising ; PrancisFranchise) untuk kejujuran atau kebebasan) adalah hak-hak untuk menjual suatu produk atau jasa maupun layanan. Sedangkan menurut versi pemerintah Indonesia, yang dimaksud dengan waralaba adalah perikatan dimana salah satu pihak diberikan hak memanfaatkan dan atau menggunakan hak darikekayaan intelektual (HAKI) atau pertemuan dari ciri khas usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan oleh pihak lain tersebut dalam rangka penyediaan dan atau penjualan barang dan jasa.

Menurut Asosiasi Franchise Indonesia, yang dimaksud dengan Waralaba ialah suatu sistem pendistribusian barang atau jasa kepada pelanggan akhir, dimana pemilik merek (franchisor) memberikan hak kepada individu atau perusahaan untuk melaksanakan bisnis dengan merek, nama, sistem, prosedur dan cara-cara yang telah ditetapkan sebelumnya dalam jangka waktu tertentu meliputi area tertentu.

Jenis Waralaba :

  1. Waralaba luar negeri, cenderung lebih disukai karena sistemnya lebih jelas, merek sudah diterima diberbagai dunia, dan dirasakan lebih bergengsi.
  2. Waralaba dalam negeri, juga menjadi salah satu pilihan investasi untuk orang-orang yang ingin cepat menjadi pengusaha tetapi tidak memiliki pengetahuan cukup piranti awal dan kelanjutan usaha ini yang disediakan oleh pemilik waralaba.

          Franchise dapat mempengaruhi rasa Nasionalisme rakyat Indonesia, mengapa dikatakan demikian? Franchise atau waralaba seperti pengertian diatas tidak hanya berasal dari Indonesia, namun banyak pula franchise yang berasal dari luar negeri. Franchise sendiri merupakan salah satu dampak globalisasi di bidang ekonomi. Bicara tentang globalisasi tentu terdapat hal positif maupun negatif. Keberadaan franchise membuka pasar internasional, meningkatkan kesempatan kerja dan meningkatkan devisa negara. Dengan adanya hal tersebut akan meningkatkan kehidupan ekonomi bangsa yang menunjang kehidupan nasional bangsa.

            Pengaruh franchise terhadap nasionalisme adalah hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri karena banyaknya produk luar negeri (seperti Mc Donald, Coca Cola, Pizza Hut,dll.) membanjiri di Indonesia. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia. Bangsa yang masyarakatnya kurang nasionalisme cenderung meniru budaya barat dalam hal gaya hidup yang tentu itu merupakan suatu indikasi akan hilangnya identitas bangsa. Masalah identitas bangsa ini erat kaitannya dengan kaum muda yang banyak terpengaruh budaya barat. 

 

Referensi :

https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20130303055057AAY4E5C

http://www.slideshare.net/farickin/phedofilia-ppt

http://www.depkes.go.id/downloads/Psikososial.PDF

http://www.slideshare.net/farickin/phedofilia-ppt

https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20100524155429AAoPpr0

http://id.wikipedia.org/wiki/Waralaba

http://rohimston.blogspot.com/2010/02/pengaruh-globalisasi-terhadap-kehidupan.html

http://hasan-imaduddin.blog.ugm.ac.id/2011/12/30/masuknya-waralaba-asing-di-indonesia/

Tulisan-tulisan ku

Juni 2014
S S R K J S M
« Apr   Feb »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
%d blogger menyukai ini: