PENDEKATAN EKOLOGI PADA RANCANGAN ARSITEKTUR SEBAGAI UPAYA MENGURANGI PEMANASAN GLOBAL

unduhan

Dalam alam, mahluk hidup akan bersuksesi dalam ekosistimnya dan berupaya mencapai kondisi yang stabil hingga klimaks. Kondisi stabil dan klimaks terjadi bila hubungan timbal balik antara mahluk hidup  dan lingkungannya berjalan dengan mulus, yaitu berarti semua kebutuhan hidupnya terpenuhi. Manusia sebagai mahluk hidup juga merupakan ekosistim yang bersuksesi dan ingin hidup stabil dan mencapai klimaks. Populasi manusia meningkat dengan cepat disertai dengan kemanjuan teknologi yang meningkat pesat, maka terjadilah pemanfaatan sumber daya alam secara besar-besaran dengan teknologi yang paling ekonomis, sehingga menimbulkan dampak yang tidak semuanya bisa diterima oleh alam. Kepadatan dan pertumbuhan penduduk membuat kebutuhan pangan dan lahan menjadi meningkat dan berakibat pada kerusakan alam dan hutan. Di Indonesia, menurut data dari Green Peace, setiap 1 jam kerusakan hutan mencapai seluas 300 lapangan bola, hal ini merupakan faktor utama meningkatnya laju emisi gas rumah kaca ke atmosfer. Padahal hutan merupakan paru-paru bumi dengan menyerap CO2 dan diolah menjadi O2. Menyusutnya luas hutan membuat konsentrasi CO2 merupakan salah satu pemicu suhu bumi meningkat. Disamping itu, rusaknya hutan berarti semua siklus ekosistim yang tergantung pada hutan dan yang terkandung didalam tanah juga terganggu. Kepadatan penduduk dibumi juga meningkatkan industri dan transportasi yang menggunakan bahan bakar yang berasal dari sumber daya alam tak terperbarui dalam  jumlah besar, yaitu energi. Industri dan transportasi mengeluarkan emisi atau gas buang dari hasil proses pembakaran energi. Emisi dalam jumlah terbesar adalah CO2 mencapai 80% dari total gas emisi pembakaran bahan bakar. Dari parahnya kerusakan hutan dan melambungnya emisi dari gas buang dari industri dan transportasi membuat konsentrasi CO2 menggantung diudara dan menebalkan lapisan atmosfer, sehingga panas matahari terperangkap dan mengganggu pelepasan panas bumi keluar atmosfer.

Kondisi ini juga berakibat pada turunnya hujan yang mengandung asam yang disebut sebagai hujan asam yang membahayakan kelangsungan mahluk hidup. Dari semua kondisi di bumi tersebut suhu permukaan bumi meningkat dan  menimbulkan efek yang signifikan yaitu perubahan iklim yang drastis, dan pemanasan global.. Menurut Al-Gore, semenjak revolusi industri dalam kurun waktu 20 tahun, suhu bumi meningkat 2 derajat, pada tahun 2100 diperkirakam naik sampai 58 derajat. Pemanasan global yang terjadi diperkirakan dapat mencairkan es di kutub dan naiknya permukaan air laut. Menurut Green Peace,akibat pemanasan global akan mencairkan es di kutub, yang diperkirakan pada tahun 2030, sekitar 72 hektar daerah di Jakarta akan digenangi air. Tahun 2050, kemungkinan 2000 pulau di Indonesia akan tenggelam. Semua kondisi ini diawali oleh kerusakan ekosistim di alam yang sangat parah, mulai habisnya sumber daya alam yang tak terperbarui, dan rusaknya sumber daya alam lainnya.

Kondisi ini merupakan suatu bencana ekologis yang akan mengancam kualitas hidup manusia karena merupakan penunjang kehidupan manusia. Pemanasan global yang terjadi akhir-akhir ini tidak dapat hanya dikurangi dengan upaya penggunaan energi yang efisien saja, tetapi harus ada upaya lain yang berpihak pada penggunaan sumber daya alamsecara keseluruhan dengan menjaga  keberlangsungan sumber daya alam. Kerusakan alam yang secara ekologis sudah demikian parah, kini sudah saatnya dipikirkan dengan pendekatan dengan pengertian kearah ekologi. Manusia diharapkan menjaga dan memelihara kelestarian alam, pada setiap kegiatannya terutama yang berkaitan sumber daya alam. Upaya tersebut harus dilakukan oleh setiap manusia disegala kegiatannya untuk menyelamatkan kualitas alam yang akan menjamin kualitas hidup manusia Pada setiap rancangan kegiatan manusia termasuk rancangan bangunan diharapkan juga berpihak pada keselarasan dengan alam, melalui pemahaman terhadap alam. Pemahaman terhadap alam dengan menggunakan pendekatan ekologis diharapkan mampu menjaga keseimbangan alam. Demikian pula pada rancangan bangunan secara arsitektur sangat perlu keselarasan dengan alam karena secara global bangunan diperkirakan menggunakan 50% sumber daya alam, 40% energi dan 16% air, mengeluarkan emisi CO2 sebanyak 45% dari emisi yang ada. Rancangan arsitektur juga mengubah tatanan alam menjadi tatanan buatan manusia dengan sistim-sistim dan siklus-siklis rancangan manusia yang tidak akan pernahidentik dengn sistim-sistim dan siklus-siklus alam

 

Pemahaman terhadap Alam

Pemahaman terhadap alam pada rancangan arsitektur adalah upaya untuk menyelaraskan rancangan dengan alam, yaitu melalui memahami perilaku alam., ramah dan selaras terhadap alam. Keselarasan dengan alam merupakan upaya pengelolaan dan menjaga kualitas tanah, air dan udara dari berbagai kegiatan manusia, agar siklus-siklus tertutup yang ada pada setiap ekosistim, kecuali energi tetap berjalan untuk menghasilkan sumber daya alam. Manusia harus dapat bersikap transenden dalam mengelola alam, dan menyadari bahwa hidupnya berada secara imanen dialam. Akibat kegiatan atau perubahan pada kondisi alamiah akan berdampak pada siklus-siklus di alam. Hal ini dimungkinkan adanya perubahan dan transformasi pada sumber daya alam yang dapat bedampak pada kelangsungan hidup manusia Pemikiran rancangan arsitektur yang menekankan pada ekologi, ramah terhadap alam, tidak boleh menghasilkan bangunan fisik yang membahayakan siklus-siklus tertutup dari ekositim sebagai sumber daya yang ada ditanah, air dan udara. Didalam ranah arsitektur ada pula konsep arsitektur yang menyelaraskan dengan alam melalui menonjolkan dan melestarikan potensi, kondisi dan sosial budaya setempat atau lokalitas, disebut dengan arsitektur vernacular. Pada konsep ini rancangan bangunan juga menyelaraskan dengan alam, melalui bentuk bangunan, struktur bangunan, penggunaan material setempat, dan sistim utilitas bangunan yang alamiah serta kesesuaian terhadap iklim setempat. Sehingga dapat dikatakan arsitektur vernacular, secara tidak langsung juga menggunakan pendekatan ekologi. Menurut Anselm (2006), bahwa arsitektur vernacular lebih menonjolkan pada tradisi, sosial budaya masyarakat sebagai ukuran kenyamanan manusia. Oleh karena itu arsitektur vernacular mempunyai bentuk atau style yang sama disuatu tempat tetapi berbeda dengan ditempat yang lain, sesuai tradisi dan sosial budaya masyarakatnya. Contohnya rumah-rumah Jawa dengan bentuk atap yang tinggi dan bangunan yang terbukauntuk mengatasi iklim setempat dan sesuai dengan budaya yang ada, kayu sebagai material setempat dan sedikit meneruskan radiasi matahari. Arsitektur vernacular keselarasan terhadap alam sudah teruji dalam kurun waktu yang lama, sehingga sudah terjadi keselarasan terhadap alam sekitarnya. Pada arsitektur vernacular, wujud bangunan dan keselarasan terhadap alam lahir dari konsep social dan budaya setempat.

 

 

Referensi :

http://radenhariagungwardoyo.blogspot.com/

Iklan

FALLING WATER

Falling Water, Rumah di Atas Air Terjun

 

Location : Mill Run , Pennsylvania
Nearest city : Pittsburgh
Built : 1936 – 1939
Architect : Frank Lloyd Wright
Architectural style(s) : Organic architecture
Visitation : about 135,000
Governing body : Western Pennsylvania Conservancy
Added to NRHP : July 23, 1974
Designated NHL : May 23, 1966
NRHP Reference# : 74001781

Falling water adalah rumah yang didesain oleh arsitek Amerika Frank Lloyd Wright pada tahun 1935 di barat daya pedesaan Pennsylvania, 50 mil sebelah tenggara Pittsburgh . Berusaha menghadirkan sebuah karya arsitektur dengan pendekatan konsep dekat dengan alam. Pemilihan lahan dan bahan bangunan secara apik menyiratkan kesederhanaan dan penghargaan terhadap alam sekitar. Bahan bangunan (finishing) diambil dari quarry di sekitar lokasi dengan eksplotasi yang bijak. Pemilihan struktur yang didominasi sistem cantilever (overhang) berbahan utama beton bertulang secara sepintas tampak biasa saja, namun kalau dilihat lebih detail menunjukkan bahwa Falling Water dibangun dengan sistem struktur yang rumit dan sangat detail.
Bangunan ini ditetapkan sebagai National Historic Landmark di 1966. Pada tahun 1991, American Institute of Architects menunjukkan bahwa Falling Water adalah “The Best all-time work American architecture”. Sementara itu National Geographic Traveler menetapkannya sebagai “Place of a Lifetime”.

Fallingwater dibangun dengan sistem struktur yang rumit dan sangat detail.
Masuk ke dalam bangunan, akan tampak tojolan bebatuan asli berukuran besar, yang menunjukkan bahwa bangunan didirikan sangat menyatu dengan alam dalam arti yang sebenarnya di mana sangat sedikit dari bebatuan tebing sungai yang dirubah struktur aslinya.Banyaknya bukaan pada dinding dan atap juga menunjukkan konsep hemat energi (cahaya dan panas) yang sekarang ini menjadi isu global. Berada di sebuah kawasan terpencil yang cenderung in the middle of nowhere.

Interior

1. Interior Falling Water

3. Interior Falling Water

4. Interior Falling Water

5. Interior Falling Water

Eksterior

5. Eksterior Falling Water

6. Eksterior Falling Water

 

Eksterior Falling Water, halaman depan

10. Eksterior Falling Water

 

Denah

Falling Water Floor Plan

 

 

Referensi :

http://bayusp.blogspot.com/2011/03/falling-water-rumah-di-atas-air-terjun.html

https://raterfucker.wordpress.com/2014/03/01/arsitek-frank-lloyd-wright-dan-karyanya/

 

PROFIL ARSITEK : ZAHA HADID

unduhan (5)

Adalah seorang wanita keturunan Iraq, lahir di Baghdad tahun 1950. Dia telah memenangkan banyak  penghargaan internasional di bidang arsitektur, yang tertinggi  adalah Pritzker Prize Award tahun 2004. Pritzker Prize Award adalah setingkat Nobel di bidang arsitektur. Diberikan oleh Hyatt Foundation kepada ”seorang arsitek hidup yang bekerja membangun dengan menunjukkan kombinasi dari bakat, visi dan komitmen, yang telah menghasilkan kontribusi yang konsisten dan signifikan terhadap kemanusiaan dan lingkungan binaan melalui seni arsitektur”.

Karya-karya beliau diantaranya :

  1. London Aquatics Centre, London
    Bangunan ini selesai pada 2011. Dibangun untuk Olimpiade London, fasilitas mencakup dua 50 meter kolam renang dan kolam renang menyelam 25 meter. Bangunan ini baru akan terbuka untuk umum pada 2014.

unduhan (6)

2. Riverside Museum, Glasgow (2011)

Bangunan ini menjadi pemenang dalam ajang Eropa Museum of the Year Award tahun ini.

unduhan (1)

3. Sheikh Zayed Bridge, Abu Dhabi

Jembatan ini rampung pada 2010. Jembatan sepanjang 842 meter ini dibangun dengan biaya USD300 juta atau sekira Rp3,3 triliun (kurs Rp11.145 per USD). Desain bangunan tersebut dibuat melengkung, yang memiliki arti membangkitkan bukit pasir bergelombang di gurun.

unduhan (2)

4. Guangzhou Opera House

Bangunan yang juga rampung pada 2010 ini dibangun dari material kaca, batu granit dan baja. Membutuhkan lima tahun untuk konstruksinya, gedung opera ini mampu menampung hingga 1.804 pengunjung.

unduhan (3)

5. MAXXI, National Museum of the 21st Century Arts, Roma

Setidaknya dibutuhkan 10 tahun untuk menyelesaikan bangunan ini. Museum ini banyak menampilkan karya artis ternama seperti Gilbert & George, Anish Kapoor dan juga Gerhard Richter.

unduhan (4)

 

 

Referensi :

https://virtualarsitek.wordpress.com/artikel/arsitek/arsitek-mancanegara/zaha-hadid/

http://economy.okezone.com/

 

Tulisan-tulisan ku

Februari 2015
S S R K J S M
« Jun   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  
%d blogger menyukai ini: